Menikah membatasi diri perempuan?
Coba berapa banyak disini yang hamil dan punya anak bukan karena kemauan sendiri tapi faktor lingkungan? Hayooo hehehe
Orang tua dan mertua bahkan tetangga yang tiap hari nanyain “udah isi belum?” bikin diri ini lama-lama insecure. Iya yah kok belum isi ya? Iya yah kok belum hamil ya?
Sebagai perempuan Indonesia, kita memang masih ada dalam budaya yang nggak memberikan banyak kebebasan perempuan untuk memilih sesuai dengan kehendak hatinya. Masih banyak aturan sosial dan patriarkis yang mau nggak mau kita ikuti alurnya demi bisa diterima di masyarakat bahkan keluarga sendiri. Nggak selalu jelek sih, tapi kalau lingkungannya nggak support, akan berbahaya buat kesehatan mental si wanita, aka si ibu.
Kadang, ini juga yang bikin beberapa orang akhirnya enggan untuk segera memutuskan menikah karena paham bahwa menikah akan membatasi dirinya dari berkembang. Untuk anak perempuan yang biasa dididik oleh keluarganya untuk tidak jadi perempuan yang ‘biasa saja’, tapi menjadi perempuan yang mandiri, berkarya, berkarir atau senang cari ilmu, akan sulit untuk diam saja di rumah pasca menikah. Mungkin bisa, tapi ngaruhnya ke kesehatan mental.
Di sisi lain, kita memang mau nggak mau akan memasuki next stage of life, yakni berkeluarga dan memiliki anak (bagi yang memilih untuk berkeluarga) dan harus beradaptasi dengan itu semua.
Terus gimana ya kalau udah kayak gitu? Apa kabar ambisiku? Apa kabar cita-citaku? Apakah dalam hidup ini kita memang seringkali nggak punya kontrol atas hidup kita?
Eits, stop. Jangan mellow dulu. Berdasarkan pengalaman pribadi, ini yang aku lakukan :
1. Diskusi dengan calon suami tentang aktifitas setelah menikah. Apakah mau kerja, kuliah atau di rumah aja. Dan ini harus didiskusikan sampai deal! Sampai tercapai kesepakatan bersama. Anak perempuan yang visioner sih biasanya udah paham apa yang di mau. Setelah tercapai kesepakatan dua belah pihak (calon istri dan suami), sampaikan ke keluarga atau orang tua masing-masing tentang rencana kalian berdua. Jadi setelah menikah, nggak ada mertua yang kaget kok menantu perempuannya begini?! Dan kalian sebagai pasangan suami istri punya hak untuk menentukan sendiri jalan hidup keluarga kalian ya. Kalau kata mas suami sih, cukup dua kepala aja, jangan terlalu banyak pengambil keputusan di dalam rumah. Fungsi orang tua dan mertua nantinya adalah sebagai supporter dan reminder.
2. Ketika sudah menikah, lalu punya anak, harus tau kapan kita perlu egois demi kesehatan mental. Langsung sampaikan ke suami atau keluarga kalau perasaan mulai kacau. Izin untuk keluar cari kegiatan yang bisa buat ngecharge energi setelah mungkin seharian atau berhari hari berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Pergi ke mall kah, ke salon, belanja, atau ketemu temen. Dont worry about your kid, they will be fine! Yakin yakin yakin bahwa Allah jaga anak kita. Mereka kan titipan Allah, masa iya titipan dilepas gitu aja? Kita yang diberi titipan juga pasti butuh keluar cari modal kan? Modal uang, modal ilmu parenting, modal kesehatan, dll.
Setelah baterai penuh, kembali ke keluarga dan anak-anak with full of positivity. Ibu yang bahagia, akan menciptakan suasana keluarga yang positif, dan membawa pengaruh yang baik ke anak-anak. Sebaliknya? Yap, bisa diprediksi.
Foto sebelum berangkat kuliah ke London, UK
3. Berdamai dengan waktu. Nggak perlu terburu buru mewujudkan semuanya yang kita mau. Nikmati momen baru dan peran baru dalam hidup ini. Kalau kita tekun dan yakin, apa yang jadi target insya Allah bisa kok tercapai. Lengkapnya tentang menggapai mimpi setelah menikah, bisa cek di postingan yang ini ya! http://nanahusnaa.blogspot.com/2020/12/perjalanan-karir-hidup.html
Mungkin yang aku tulis ini tidak semua menjawab kegelisahan kalian para wanita ya. Perlu dipahami juga bahwa kondisi dan background masing-masing keluarga itu berbeda-beda. Rezekinya pun berbeda beda. yang perlu kita lakukan adalah ikhtiar atau berusaha sebaik mungkin baik dhohir maupun batin hehe. Semangattt para wanita aka isti aka ibu di luar sana!
Komentar
Posting Komentar