ASEAN Students Visit India (Part 1)
Haiiii kali ini aku mau sharing tentang perjalananku ke India sebagai duta Indonesia dalam program PPAN niih. Udah pada tau dooong PPAN itu apa? Apa? Belum tau? Googling gih. Ini program keren dari pemerintah lho.. Setelah tau kalian pasti akan tertarik. *wink*
Well seperti apa sih India? Mungkin sebagian orang berfikir, ngapain sih ke India, ada apaan disana? Berapa lama di India? Hah cuma 10 hari? Ya elaah…
India memang bukan negara favorit dibandingkan Negara Jepang, Australia, ataupun China bagi masyarakat Indonesia. Tapi PPAN memang bukan hanya program jalan-jalan nduk. Kata para senior yang sudah lebih dulu pergi ke India sih, ikut PPAN itu untuk belajar menjadi ambassador. Peserta yang diberangkatkan ke luar negeri oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui program PPAN, akan berangkat ke luar negeri bukan hanya membawa nama pribadi, tapi yang terpenting adalah membawa nama Indonesia. Terutama jika kita sudah menggunakan seragam A1 lengkap dengan peci garuda dan bendera merah putih tersemat di dada, tanggung jawab sebagai seorang ambassador Negara Indonesia itu semakin membumbung. Bagaimana cara kita bersikap, bagaimana cara kita berinteraksi dengan sesama peserta, panitia, dan orang-orang yang kita temui disana menjadi cerminan Indonesia. Berat? Tentu saja. Tapi itu menjadi tantangan untuk kami. Sebelum berangkat ke India, kami mendapat pembekalan di Jakarta terlebih dahulu selama lima hari. Di pembekalan tersebutlah saya bertemu dengan teman-teman perwakilan provinsi lain yang berjumlah 23 orang dan satu head of delegation dari kemenpora. Later on, saya menyadari bahwa ke 24 teman-teman saya ini adalah orang-orang hebat yang saya banyak belajar dari mereka.
Well seperti apa sih India? Mungkin sebagian orang berfikir, ngapain sih ke India, ada apaan disana? Berapa lama di India? Hah cuma 10 hari? Ya elaah…
India memang bukan negara favorit dibandingkan Negara Jepang, Australia, ataupun China bagi masyarakat Indonesia. Tapi PPAN memang bukan hanya program jalan-jalan nduk. Kata para senior yang sudah lebih dulu pergi ke India sih, ikut PPAN itu untuk belajar menjadi ambassador. Peserta yang diberangkatkan ke luar negeri oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui program PPAN, akan berangkat ke luar negeri bukan hanya membawa nama pribadi, tapi yang terpenting adalah membawa nama Indonesia. Terutama jika kita sudah menggunakan seragam A1 lengkap dengan peci garuda dan bendera merah putih tersemat di dada, tanggung jawab sebagai seorang ambassador Negara Indonesia itu semakin membumbung. Bagaimana cara kita bersikap, bagaimana cara kita berinteraksi dengan sesama peserta, panitia, dan orang-orang yang kita temui disana menjadi cerminan Indonesia. Berat? Tentu saja. Tapi itu menjadi tantangan untuk kami. Sebelum berangkat ke India, kami mendapat pembekalan di Jakarta terlebih dahulu selama lima hari. Di pembekalan tersebutlah saya bertemu dengan teman-teman perwakilan provinsi lain yang berjumlah 23 orang dan satu head of delegation dari kemenpora. Later on, saya menyadari bahwa ke 24 teman-teman saya ini adalah orang-orang hebat yang saya banyak belajar dari mereka.
Selama lima hari pre deprature training, kami mendapat materi-materi
tentang India, tentang how to be a good ambassador, kami belajar
sedikit banyak tentang kebudayaan mereka, dan kami juga latihan cultural performance yang
akan kami persembahkan di acara Gala Dinner di New Delhi. Selama lima hari itu
pula, jadwal tidur kami terpotong banyak. Dalam satu hari mungkin kami hanya
tidur 2-4 jam. Lelah? Ngantuk? Tentu saja, tapi kami senang menjalaninya. Di pertengahan PDT di Jakarta, saya sempat merasa, apakah saya
layak berada disini? Bersiap untuk menggunakan semua atribut negara ini,
menjadi satu-satunya perwakilan dari Provinsi Jawa Tengah, dan dianggap sebagai
pemuda pilihan provinsi. Bukan perasaan minder, tetapi disitu saya tersadarkan
bahwa saya harus bisa memberikan yang terbaik, bagi provinsi saya, dan juga bagi
Indonesia. Provinsi dan negara saya sudah memberikan saya kesempatan dan
kepercayaan untuk menjadi duta muda yang membawa nama Indonesia, maka tidak ada
jalan mundur atau berbalik ke belakang, yang ada hanya maju. Maju dan berjuang
menjadi versi terbaik saya demi Indonesia.
Jadi masih mau bilang, ada apaan di India? Cuma 10 hari?
Well, there are absolutely more than that! It’s more than India itself.
Peserta program ASVI ini terdiri dari 10 negara-negara ASEAN.
Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Vietnam,
Thailand, Filipina dan seharusnya ada Myanmar tapi negara tersebut absen untuk
tahun ini. Sebagian besar kegiatan selama program adalah kunjungan. Yap,
kunjungan, kunjungan, sedikit shopping, lalu kunjungan lagi. Penyelenggara
program ini adalah Confederation of Indian Industry (CII) dengan Kementerian
Luar Negeri India dan di Indonesia difasilitasi oleh Kementerian Pemuda dan
Olahraga RI. Karena penyelenggara program ini adalah CII, maka sebagian besar
kunjungan pun berupa kunjungan industri, perusahaan dan kampus-kampus ternama
India. Kami dari negara Indonesia berkesempatan mengunjungi Kota Mumbai, Pune,
New Delhi dan Agra. Let me share each city one by one.
Mumbai
Mumbai atau city of
Bollywood adalah kota pertama kali kami mendaratkan
kaki di India. Sekitar pukul 23:00 adalah waktu kedatangan kami. Setelah
melakukan immigration check dan baggage claim, kami menuju hotel tempat kami
akan menginap selama 3 malam di Mumbai. Kami menginap di salah satu hotel bintang lima, Taj Land Ends, yang hanya
berjarak beberapa meter dari rumah Shah Rukh Khan. Hahahaha :P di Mumbai pula
lah pertama kali kami membaur dengan delegasi dari negara Brunei, Malaysia,
Laos dan Kamboja. Sedangkan delegasi dari negara ASEAN lainnya mengunjungi kota
yang berbeda.
Well, di Mumbai kami mengunjungi Godrej Factory
yang merupakan perusahaan dengan cakupan yang sangaaaat luas. Ia memiliki
anak-anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang mulai dari home
production hingga aerospace company. Lalu ada L&T Institute yang tadinya
saya kira adalah sebuah kampus. Ternyata ia adalah perusahaan sistem keamanan
dan teknologi yang mampu menjamin kerahasiaan sistem negara India. Kami juga
berkesempatan mengunjungi Bombay Stock Exchange (BSE) atau bursa saham Bombay
(Bombay adalah nama lawas dari Mumbai). Lokasi dari BSE ini berada di pusat
kota Mumbai atau dekat dengan stasiun tenama Chattrapati Shivaji yang memiliki arsitektur vintage peninggalan
Inggris dan dekat dengan teluk selatan Mumbai yang kami susuri di sepanjang jalur jalan
Marine Drive. Di lokasi ini saya
sangat menikmati pemandangan bangunan-bangunan tua yang ‘instagramable’. Tapi
sayangnya waktu kami terbatas sehingga hanya bisa mengunjungi BSE. Di BSE
sendiri sedikit banyak kami mempelajari tentang ilmu saham dari pemateri
seminar yang begitu bersemangat menjelaskan pergerakan saham di India terutama
di Mumbai.
Chattrapati
Shivaji Terminus, Mumbai
(Sumber :
jadiBerita.com)
Selain perusahaan dan bursa saham, kami juga
mengunjungi dua kampus di Mumbai yaitu IES Business and Management College dan
Whistling Wood Art & Design International School. Di IES College kami
banyak berinteraksi dengan para mahasiswa ekonomi yang juga mempertunjukkan
kesenian mereka yaitu menyanyi dan menari. Kami sangat menikmati pertunjukan
mereka dan bertukar Id sosial media dengan mereka. Hingga saat ini kami masih
bisa saling berinteraksi melalui sosmed. Sedangkan Whistling Wood adalah
sekolah para seniman yang telah menghasilkan ratusan seniman di India baik yang
di depan layar maupun belakang layar. Kami diajak berkeliling kampus tersebut
dan melihat studio tempat para mahasiswa praktik membuat film, studio rekaman,
studio tempat pengolahan gambar, dan banyak kelas-kelas yang menarik yang kami
belum pernah tahu sebelumnya. Di akhir kunjungan kami mendapat seminar dari
pemerhati dan ahli perfilman yang menjelaskan betapa pesatnya perkembangan
industri film di India, dimana India mampu menghasilkan 200 lebih judul film
dalam satu tahun. Yuhuu...legend.
Ketika
berkunjung ke Whistling Wood International School
(Sumber : Dokumen pribadi)
Oiya mengenai makanan, Mumbai adalah kota pertama saya merasakan masakan India. Kami selalu makan di hotel dengan berbagai macam menu makanan India yang tersedia. Dari mulai Dosa, Chappati, roti Naan, Kari, Biryani, dll. Makanan yang pertama kali saya cicip adalah Dosa yang merupakan mashed potato di panggang dengan bumbu-bumbu India lalu dibungkus dengan adonan tepung sehingga bentuknya jadi seperti kebab. Saat saya makan...hmmm no too bad, ada rasa-rasa kari di kentangnya, makanannya pun masih hangat dan harum sehingga saya bisa melahapnya sampai habis. Setelah mencoba Dosa, saya mencoba makanan-makanan lainnya dan... waduh kok rasanya sama semua. Rasa kari! Apapun menunya, bagaimanapun bentuknya, sayur ataupun daging....semuanya rasi kari! Oh my God. Jangan bayangkan kari disana sama seperti kari di Indonesia. Kari di India bumbunya lebih kuat dan bisa meninggalkan bau mulut. Saya sempat mencicipi snack biskuit dan chiki ala India saat berkunjung ke L&T Institute. Dan tebak apa rasanya? Kari! Bayangkan saja biskuit rasi kari… Lalu chiki yang selama ini kamu tahu rasa MSG, disini rasanya…kari juga!
Menu makan saat berkunjung ke Godrej Factory, Mumbai
(Sumber : Dokumen pribadi)
Makanan yang saya tahu terhindar dari kari adalah kue-kue dessert dan es krim. Untungnya delegasi dari Indonesia sudah persiapan bekal makanan seperti abon, mie instan, kering kentang, energen, dan makanan-makanan instan lainnya sehingga saat kami bosan dengan kari kami masih punya persediaan makanan. All thanks to God... (lanjut di part 2 )




Komentar
Posting Komentar