Salah Kaprah
Hai hai, pernah nggak kalian
berfikir kenapa anak ipa di SMA selalu lebih diunggulkan daripada anak ips?
Pernah nggak berfikir kenapa
banyak anak lulusan SMA yang memilih jurusan kedokteran daripada jurusan
lainnya?
Well, itu budaya salah kaprah
sih menurut saya. Tepatnya budaya salah kaprah yang dianut sebagian besar
masyarakat indonesia. Dan tau sendiri kan masyarakat indonesia jumlahnya
berapa.
Kenapa anak-anak yang bisa
masuk jurusan IPA di SMA selalu dianggap lebih unggul? Sedangkan anak-anak yang
dianggap “agak” nakal, nyaris nggak naik kelas, suka bolos, dsb cenderung
dimasukkan ke jurusan IPS atau bahasa? Kenapa orang tua wali murid pun bahkan
ada yang rela membayar mahal sekolah agar anaknya bisa masuk jurusan IPA? Haha.
Padahal ujung2nya ntar anaknya masuk jurusan sosial waktu kuliah.
Karena menurut saya, salah
kaprah kita, orang indonesia adalah, dari awal selalu menganggap jurusan IPA
adalah jurusan yang unggul karena berkaitan dengan science. Pelajaran science
dianggap sulit, sehingga yang mampu menembus nilai untuk bisa masuk jurusan IPA
akan dianggap sebagai murid-murid berprestasi. Dan sebaliknya bagi yang nilai
pelajaran science nya seperti fisika, kimia, dkk tidak memenuhi syarat untuk
masuk IPA maka murid akan dianggap “kurang pintar”.
Di Amerika, seorang anak
pernah ditanya apa cita-citanya kelak ketika sudah besar. Ia menjawab menjadi
tukang roti. And no one laugh at him. karena penjual roti di Amerika bukan
pekerjaan yang rendahan, bahkan bisa menjadi pengusaha roti yang kaya raya.
Tapi bayangkan jika anak tersebut anak Indonesia dan ditanyai pertanyaan yang
sama. Bisa dibayangkan sendiri. Padahal kesempatan untuk menjadi pengusaha roti
yang kaya raya sama dengan mereka yang
ada di Amerika.
Back to IPA dan IPS. Kenapa
harus membeda-bedakan? Kenapa harus merendahkan salah satu? Padahal kemampuan
seseorang berbeda-beda. Ada yang memang berbakat di teknologi, ada yang
bakatnya di diplomasi. Dan keduanya sama-sama keren. Jadi kenapa harus
memasukkan anak-anak yang dianggap “kurang pintar” ke jurusan IPS lalu
mendiskreditkan mereka? Kalau memang ada yang “kurang pintar” ya udah ga usah
naik kelas dulu aja. Ehehehe.
Salah kaprah lainnya adalah
jurusan kedokteran. Kenapa banyak banget murid lulusan SMA yang memilih jurusan
kedokteran? (dulu saya termasuk, peace). Mungkin salah satunya karena dari
kecil kita diarahkan dengan cita-cita yang itu itu saja? “Adek mau jadi apa
kalo udah gede? Dokter, polisi atau guru?”. Coba deh kalo ada yang nanya “besok
mau jadi CEO, bankir, sastrawan budayawan, insinyur kelautan, atau pengamat
politik?”
Alasan bahwa masuk
kedokteran sudah pasti dapet pekerjaan jadi dokter mungkin jadi salah satu
penyebab salah kaprah. Banyak yang saat lulus SMA, berfikir seakan-akan jurusan
yang sudah pasti profesinya adalah menjadi dokter. Apalagi tingkat gengsi
ketika diterima di kedokteran 10x lipat dibandingkan jika diterima di jurusan
kelautan. Padahal, lagi-lagi, jangan pernah ngeremehin jurusan tertentu karena
semua ilmu itu bermanfaat. Bold this.
Belajar dari Jepang, nelayan
disana bukan termasuk golongan orang-orang dengan penghasilan rendah. Bahkan
para nelayan disana sudah menggunakan teknologi canggih untuk menangkap ikan,
mereka punya bantuan alat bantu seperti GPS atau fish finder yang seperti sistem sonar untuk bisa
mengetahui posisi ikan. Perahu atau
kapal mereka juga dilengkapi dengan monitor atau alat-alat entah apalah itu
untuk membantu mereka menangkap ikan-ikan berkualitas tinggi. Para nelayan itu
mendistribusikan ikannya nggak hanya di pasar tapi juga ke restoran-restoran
mewah sehingga pendapatan mereka cukup besar. Mereka menyadari bahwa potensi
laut mereka dapat meningkatkan pendapatan negara. Sehingga lahirlah
ilmuwan-ilmuwan dari negara mereka sendiri yang khusus mempelajari ilmu
kelautan. Bagaimana dengan di Indonesia? Yang masih berkutat dengan tingkat
kegengsian jurusan-jurusan tertentu dan menganggap remeh yang lain. Hey, semua
ilmu itu bermanfaat...
Salah kaprah terutama di
dunia pendidikan shouldn’t be happen. Masih banyak lagi lho salah kaprah-salah
kaprahnya orang Indonesia selain yang saya sebutin di atas. Mungkin sedikit
demi sedikit mulai banyak yang menyadari salah kaprah ini dan terus menyebarkan
yang “seharusnya” ke orang lain atau
lebih penting lagi ke generasi setelahnya. Jadi salah kaprah ini nggak akan
terus menerus melekat di masyarakat Indonesia ya. Amin :)
Komentar
Posting Komentar