Ulang Tahun

Kue datang. Diiringi lagu happy birthday. Saya meniup lilin. Semua bersorak. Semua memberi selamat. Semua mendoakan saya. Semua terasa sangat sempurna...
Ulang tahun datang. Menandakan bertambahnya usia, namun pertanda berkurangnya waktu saya untuk hidup.
Setiap ulang tahun saya terasa begitu menyenangkan. Tahun lalu, hari ketika saya berulang tahun ke delapan belas, adalah hari terakhir Ujian Nasional. Tahun lalunya lagi, seluruh teman sekelas saya membuat kejutan yang nggak akan pernah saya lupakan. Begitu pula tahun-tahun lainnya sebelum itu, selalu saya lewati dengan tawa bahagia bersama teman dan keluarga. Semua terasa sangat sempurna...
Tapi di hari lahir kesembilan belas saya ini, saya menyempatkan diri untuk merenung. Selain merenungi usia yang semakin tua, saya juga merenungi kesempurnaan yang saya miliki saat ini. Bukan maksud diri merasa sombong. Tapi kesempurnaan ini justru menjadi kecemasan buat saya.
Di hari itu, Sabtu 21 April 2012, saya mendapat tiga buah kue ulang tahun sekaligus dari teman-teman dan keluarga saya. Padahal baru kemarin saya melihat seorang anak kecil mengemis demi mendapatkan sesuap nasi.
Di hari itu pula, saya mendapatkan peluk dan cium dari orang tua saya. Kemudian saya kembali teringat ketika saya kelas 3 SMA dan akan melaksanakan ujian nasional, saya mengunjungi sebuah panti asuhan dan kebetulan ada seorang anak yang berulang tahun pada hari itu. Ia melewatkan momen bahagianya tanpa orang tua.
Di hari itu pula, saya masih disibukkan dengan kegiatan-kegiatan kuliah dan organisasi yang saya ikuti. Padahal di luar sana, tidak sedikit anak-anak yang kekurangan biaya untuk melanjutkan sekolah.
Dan di hari itu pula, saya masih bisa menikmati hidup, bercanda riang bersama teman-teman saya. Padahal mungkin saja di luar sana ada yang sedang menangis kehilangan sanak saudara atau mungkin dirinya sedang menghembuskan nafas terakhir...
Saya terdiam sejenak. Inikah kesempurnaan yang melenakan itu? Harta,  fisik, dan cinta yang sempurna. Saya mempunyai semuanya. Namun justru itu yang membuat saya cemas. Tuhan akan memberikan cobaan bagi hambanya yang Ia sayangi. Namun mengapa hidup saya terasa begitu indah hingga detik ini? Bukan saya mengharapkan musibah atau apapun itu. Tapi sampai saat ini saya belum benar-benar menemukan arti hidup yang akan membuat saya menjadi orang yang lebih dewasa dan peka terhadap sekitar saya. Saya memang belum bisa memberikan apa-apa terhadap orang di sekitar saya, tapi menginjak usia yang mulai dewasa ini, saya akan belajar untuk menjadi orang yang lebih peka terhadap sekitar saya, menikmati kesempurnaan yang saat ini saya miliki sekaligus membaginya terhadap orang lain. Bertambahnya usia bukan hanya dirayakan dengan bersenang-senang, tapi juga menjadi waktu untuk kita berintropeksi dan berbenah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Happy birthday to me...semoga saya bisa menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya :)

Komentar

Postingan Populer